Elly Risman: “Banyak Orangtua yang Tak Siap Jadi Orangtua”

Jumat, 29 September 2006
Menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.

Majalah Hidayatullah edisi September 2006

Rubrik FIGUR

Tulisan 1:

Mudahkah menjadi orangtua? Sebagian orang mungkin mengira demikian. Mereka kira, setelah menikah dan punya anak lantas mereka otomatis siap menjadi orangtua yang cakap dan baik. Kalau ada yang berfikir begitu berarti dia tidak tahu bahwa dirinya tidak tahu.

Yang benar, menjadi orangtua itu tidak mudah. Apalagi di zaman neo jahiliyah seperti sekarang ini. Mengemban amanah mengasuh dan mendidik anak hingga kelak mereka menjadi insan yang tangguh dan shalih adalah tugas yang maha berat.
Kemampuan menjadi orangtua yang cakap dan baik tidak jatuh dari langit begitu saja, melainkan harus ditempuh dengan banyak belajar. Pelajaran pertama biasanya didapat dari orangtua para orangtua itu. Misalnya, jika si Fulan kini menjadi seorang ayah, maka cara si Fulan mendidik anak-anaknya biasanya mengikuti bagaimana cara ayah si Fulan dulu mendidik dirinya. Kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara lemah-lembut, biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara lemah-lembut pula. Sebaliknya, kalau si Fulan dulu dididik ayahnya dengan cara kekerasan, biasanya si Fulan juga akan mendidik anak-anaknya dengan cara kekerasan pula. Jadi terjadi semacam pewarisan cara mendidik dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pelajaran kedua diperoleh dari lingkungan sosialnya. Bisa dari saudaranya, rekan-rekannya, gurunya, atau dari buku dan majalah yang dia baca. Pelajaran jenis kedua ini tidak kalah kuat pengaruhnya pada seseorang, tetapi berapa banyak pelajaran yang dia dapat sangat tergantung dari keaktifannya belajar dari lingkungan sosialnya itu.

Mereka yang aktif belajar, insya Allah, memiliki banyak khazanah pengetahuan tentang bagaimana mendidik dengan baik dan benar. Namun orangtua yang seperti ini jumlahnya sedikit saja ketimbang orangtua lain yang cuek, tak mau belajar. Kebanyakan hanya mengandalkan instink dan pelajaran dari orangtuanya dulu, meski pelajaran itu mungkin mengandung kekeliruan.

Akibatnya, dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai orangtua yang terkaget-kaget dan kebingungan menghadapi problema mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Bahkan belum lama ini di Bandung ada seorang Muslimah terdidik yang membunuh ketiga anak kandungnya karena kegamangannya mempersiapkan masa depan anak-anaknya.

Masalah seperti ini semakin hari semakin serius dan semakin parah, karena gempuran budaya jahiliyah semakin hari semakin masif menyerang keluarga kita. Gempuran itu langsung datang ke rumah kita, melalui tayangan di televisi, VCD, internet, telepon seluler, dan media cetak.

Dampak negatifnya sudah terasa di sekitar kita. Pada tahun 2002 Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) melakukan penelitian tentang perilaku seks remaja kita pada enam kota di Jawa Barat. Dari penelitian itu diperoleh data, sekitar 40% remaja kita yang berusia 15-24 tahun mengaku pernah melakukan hubungan seks pranikah.

Hasil penelitian ini kemudian diperkuat temuan VCD berisi adegan pelajar SMA di Cianjur yang melakukan hubungan seks di ruang kelas sekolahnya.

Berbagai temuan negatif ini tentu saja mencemaskan seluruh orangtua yang berotak waras. Tapi kebanyakan orangtua cuma sampai di situ, tak tahu apa yang harus diperbuat.

Elly Risman adalah satu dari jutaan orangtua yang juga merasa cemas dan gelisah melihat fenomena mengerikan seperti itu, yang kemudian berketetapan hati untuk melakukan perlawanan dan pencegahan.

Bersama sejumlah kawan dekatnya, antara lain Neno Warisman, Erry Sukresno, Hidayat Achyar, dan Tommy Sutomo, pada tahun 1998 Elly mendirikan Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH).

Melalui yayasan tersebut Elly mengajak para orangtua untuk terus belajar bagaimana menjadi orangtua yang seharusnya, sehingga kualitas pengasuhan anaknya menjadi semakin baik. Dan jika ada kekeliruan selama ini dapat diperbaiki. “Kami siap membantu orangtua yang mau berubah,” jelas wanita kelahiran Aceh Barat ini.

Menurutnya, selama ini orangtua tidak sadar bahwa banyak terdapat kekeliruan pola asuh yang mereka terapkan pada anak-anaknya, sehingga berakibat buruk di kemudian hari. “Sikap anak yang negatif itu karena salah asuh orangtuanya,” jelasnya.

Sayangnya, kebanyakan mereka baru sadar ketika anak-anaknya menginjak dewasa. “Orangtua harus berpacu dengan perkembangan teknologi dan kemajuan informasi yang di sana juga banyak bermuatan informasi negatif,” tambahnya.

Kegiatan YKBH secara garis besar ditujukan untuk orangtua, remaja dan anak-anak. Kegiatan tersebut berbentuk workshop dan pelatihan parenting (pengasuhan dan pendidikan anak), serta pelayanan konsultasi untuk pribadi, keluarga, pasangan dan anak-anak.

YKBH juga membuka program pelatihan untuk anak-anak agar siap menghadapi tantangan hidupnya yang semakin berat. Untuk mendukung program itu, sejak tiga tahun lalu Elly merekrut 30 anak-anak muda, mahasiswa, sarjana yang baru saja lulus, dan psikolog muda. Mereka dilatih selama hampir enam bulan untuk menjadi konselor bagi rekan sebayanya dan anak-anak.

Jika yang menyampaikan orang muda, diharapkan komunikasi antara pelatih dan yang dilatih lebih lancar, terutama dalam membincangkan soal seksual. “Ternyata memang benar, kepada kakak pelatih yang muda-muda itu anak-anak jadi lebih terbuka mengemukakan pertanyaan dan pendapatnya,” terangnya.

Kepada wartawan Hidayatullah, Bahrul Ulum, Saiful Hamiwanto, dan fotografer Ahmad Lutfi Efendi, yang berkunjung di kantornya, Elly memperlihatkan dua buah album foto berukuran besar. Album itu berisi puluhan kertas berukuran kecil yang masing-masing berisi pertanyaan dari peserta pelatihan yang bersekolah di kelas 4-6 SD. Apa isi pertanyaan mereka?

Dahsyat! Mereka sudah bisa bertanya tentang cara-cara berhubungan suami-istri yang memuaskan, masturbasi, oral seks, serta fungsi kondom. Kok bisa?

“Bagaimana tidak bisa? Setiap hari anak kita diterpa dengan tayangan-tayangan porno dari televisi, VCD, tabloid, komik, internet, HP, bahkan dari pornoaksi yang dilakukan orang-orang dewasa di sekitarnya,” papar Elly.

Selanjutnya Elly berbicara panjang lebar kepada majalah Hidayatullah tentang gawatnya ancaman yang mengintai anak-anak kita, “Karena anak-anak Indonesia sekarang sudah dijadikan komoditi industri seks internasional.”

Lantas apa yang harus dilakukan para orangtua Indonesia? Silakan simak pendapat selanjutnya berikut ini:

Melihat problema yang dihadapi remaja kita saat ini, nampaknya perlu ada perbaikan pola pengasuhan dan pola komunikasi antara orangtua dengan anak-anaknya ya?

Ya. Anak-anak bisa seperti itu karena pendidikan agamanya lemah. Komunikasi dengan orangtua sangat buruk. Misalnya anak tanya tentang kondom tidak boleh, bertanya tentang perkosaan dan sodomi dimarahi. Padahal itu semua mereka lihat di TV. Orangtua tak siap jadi orangtua. Tak tahu tahapan perkembangan anak. Mereka masih memegang pendidikan seks sebagai sesuatu yang tabu, tidak layak dibicarakan. Kalaupun ingin berbicara tak tahu bagaimana memulainya, sampai kapan dan sejauh mana.

Seberapa besar kesalahan orangtua menghadapi anak?

Islam tegas memerintahkan kita untuk memuliakan dan mengajarkan anak-anak dengan akhlak yang baik. Anak itu amanah, kalau kita salah mendidik, dia bisa menjadi ujian, bahkan bisa menjadi musuh. Orangtua sering tidak memuliakan anaknya. Kalau mereka bertanya malah dibentak. Padahal setiap anak punya hak untuk mengetahui sesuatu yang dia lihat. Mereka butuh informasi yang benar dan lurus, termasuk masalah seks.

Pernahkah orangtua bertanya pada diri sendiri, sudahkah kita penuhi hak anak-anak? Sudahkah kita mendengar perasaan mereka? Sudah cukupkah kita memberi bekal kepercayaan diri yang benar pada mereka? Bukankah bekal kepercayaan diri mereka sudah banyak kita curi dengan cara pendidikan yang salah?

Orangtua masih bersikap double bounce (plin-plan) pada anak. Suatu saat dibolehkan, tapi pada saat lain dilarang. Dampaknya anak merasa tidak mampu, tidak berharga, sehingga gampang dipengaruhi. Pendidikan agamanya mestinya dari orangtua sendiri. Dari sini saya berfikir, berat benar pekerjaan orangtua sekarang ini.

Apakah keadaannya memang sudah segawat itu?

Iya. Sekarang ini kepala si anak seperti dipanah dari segala penjuru; dari atas, bawah, kiri, kanan dan belakang. Mereka dituntut macam-macam. Prestasilah, ranking, dan macam-macam. Padahal Allah menciptakan manusia itu berbeda-beda. Tapi kita menuntut berlebihan, seperti harus mendapatkan ranking. Itu artinya semua mata pelajaran harus bagus. Padahal tidak semua mata pelajaran harus bagus. Ada yang kuat matematikanya, bahasanya, atau seninya. Dalam teori multiple intelligents, cerdas itu macam-macam. Ada cerdas angka, cerdas ruang, dan cerdas gerak. Kita harus tahu itu.

Orangtua harus mengetahui kecerdasan yang dimiliki anaknya. Jika menuntut berlebihan maka membuat anak tak terpenuhi haknya. Itu baru satu panah, dari orangtua. Lalu sekolah, guru-gurunya, lingkungannya, dan semuanya “memanah” dia. Lalu ada tawaran baru dalam bentuk pornografi. Banyak beredar komik porno, VCD porno, internet porno, narkoba, ajakan berantem.

Ada orangtua yang merasa tak tega bila anaknya tak mengikuti perkembangan kemudian anaknya dibelikan HP berkamera. Apa akibatnya? Anak-anak itu kemudian bukan hanya mengirim SMS porno, tapi juga MMS (foto) porno.

Pengaruh itu tampaknya tak terbendung, begitu?

Saya berani bilang, anak kita menjadi sasaran industri seks internasional. Silakan buka situs international media watch di Amerika. Di situ ada tulisan tentang The Drug of the New Millennium. Di situ saya memperoleh informasi bahwa memang di sana memproduksi film, VCD, dan komik porno. Film-film itu dibuat sangat murah dengan bintang film yang tidak terkenal. Kemudian dilempar ke sini. Itu bisa mencuci anak kita empat hal.

Satu, dasar-dasar kepercayaan, bahwa seks itu fun, “Kamu butuh, jangan sok alim.” Lalu, harga diri. “Kalau sudah terima uang sekian boleh pegang, lebih banyak lagi bisa cium, lebih banyak lagi boleh hubungan badan.” Itu terjadi karena harga diri tidak ada. Kenapa? Karena di rumah waktu belajar pasang tali sepatu dibentak. “Lama amat, sini Mama bantuin!” Anak tidak pernah punya kepercayaan pada kemampuannya. Dari situ asalnya, jadi ketika sudah gede dia tak pernah merasa dirinya berharga. Ketiga, sikap yang negatif dibuat jadi positif. “Bukan pacaran kalau kamu tidak ada sentuhan fisik”. Emosinya dibuat jadi kacau.

Bagaimana supaya orangtua menyadari hal itu?

Mereka harus mau belajar menjadi orangtua yang baik. Selama ini kan berjalan alami dan turun-temurun. Mana ada sekolah bagi calon orangtua di kalangan umat kita. Padahal di kalangan Nasrani jika seseorang ingin mendapatkan ijin menikah dari gereja, syaratnya harus lulus pelatihan pernikahan selama 6 bulan. Jika tidak lulus, maka ia tidak diijinkan menikah di gereja.

Apakah seharusnya kita juga seperti itu?

Iya, kita seharusnya juga punya Islamic parenting school (sekolah Islam non formal untuk mendidik menjadi orangtua yang baik). Materinya juga sudah jelas. Islam memiliki materi yang sangat lengkap menyangkut keluarga. Rasulullah sendiri telah mencontohkan bagaimana membangun keluarga yang sakinah mawadah wa rahma. Misalkan, ketika orangtua menghadapi pertanyaan tentang seks dari anak, ya kita kembalikan pada agama. Prinsipnya, kalau kita tahu jangan anak disuruh belajar pada orang lain. Makanya yang namanya perubahan harus dimulai dari diri sendiri. Jadi orangtua mesti banyak mendengar.

Bagaimana cara YKBH melakukan pelatihan pendidikan seks pada anak sekolah?

Setelah diberi pelatihan lalu disuruh membuat pertanyaan apa saja. Setelah itu dilihat mana pertanyaan dari anak yang sudah tahu seks dan yang belum. Ppada pertemuan berikutnya anak-anak yang sudah tahu dipisahkan dengan anak yang belum tahu. Tidak bisa dicampur. Istilahnya kita beri kelas khusus pada mereka yang tahu dan ingin tahu. Pada kenyataannya, memang justru kelas yang khusus itulah yang banyak diminati. Pada kelas ini, pertanyaannya sudah dahsyat-dahsyat. Anak-anak tak segan-segan menanyakan soal seks. Padahal seharusnya saya ini kan seusia dengan neneknya. Toh mereka berani.

Pendidikan seks bagaimana yang baik untuk anak?

Pendidikan seks itu ada dua, kalau terlalu terbuka seperti di Amerika juga berbahaya. Tapi, disembunyikan juga salah. Diberi informasi itulah yang penting. Jika ada pertanyaan tentang seks, orangtua harus memiliki kiat-kiatnya. Yaitu tenang, self control, dan take it easy. Yang kedua, cek pemahamannya. Jangan-jangan si anak lebih tahu, mereka cuma ngetes. Kalau merasa kaget, katakan, “Saya tidak pernah mikir.”

Nah, ketiga langkah ini membuat suasana tenang, tidak reaktif dan punya kesempatan berpikir menjawab atau tidak. Poin selanjutnya, beri jawaban yang terbaik plus norma agama. Jadi, dari kecil iman dan syariah itu sudah masuk dalam diri anak-anak. Di sinilah perlunya pelatihan bagi calon orangtua dan orangtua, agar memiliki bekal yang cukup ketika menghadapi anak-anaknya.

Tulisan 2

Hari Tanpa TV, Kenapa Tidak!?

Kecintaan Hainah Ellydar, begitu nama lengkap Elly, terhadap dunia anak-anak tidak lepas dari masa kecilnya yang begitu bahagia. Ia amat terkesan pada pendidikan orangtuanya, Muhammad Din Ilyas dan Saadah. Keduanya mendidik sesuai ajaran Islam. Semua keputusan dimusyawarahkan. Ayahnya selalu mengajak musyawarah sebelum memutuskan sesuatu.

Ibunya, lain lagi. Ia selalu mencatat perilaku anak yang perlu dibenahi tiap harinya. Tiap minggu anak dipanggil, masuk ke kamar, diberi tahu kesalahan-kesalahannya. ”Ibu saya tidak pernah mempermalukan anak di depan saudara-saudaranya. Begitu pula menghadapi pembantu,” ungkap sulung dari enam bersaudara, tiga perempuan dan tiga laki-laki ini.

Ayahnya, meski bukan seorang ulama, namun punya cita-cita yang kuat membangun sebuah pesantren. Tiga puluh tahun bekerja keras, akhirnya ia berhasil membeli tanah seluas 60 hektar dan 15 tahun terakhir hidupnya dihabiskan untuk membangun pesantren Subulussalam di kampungnya di Aceh Singkil.

Elly selalu mengenang ucapan ayahnya. ”Pendidikan haruslah memanusiakan manusia. Kalau kamu tidak memanusiakan orang Aceh, kapan Aceh itu bisa dibangun?” kata Elly menirukan ayahnya.

Elly meneladani orangtuanya dalam mengasuh anak. Tentu saja, kini ditambah lagi dengan pengetahuan yang diperolehnya. Apalagi ia pernah lama tinggal di Amerika. Waktu itu ia ikut suaminya yang mengambil gelar doktor di Amerika Serikat tahun 1992 hingga 1998.

Saat pulang ke Indonesia, Elly ikut mendirikan PT Surindo Utama dan menjadi salah satu direkturnya, yaitu Direktur Riset. Dari pengalaman di lembaga tersebut, Elly kemudian memasuki dunia pendidikan keluarga. “Dari pengalaman survey di lapangan ketika bekerja di Surindo itulah saya jadi terketuk untuk menekuni bidang pendidikan masyarakat ini,” aku Elly.

Menurut Elly, masa depan Indonesia saat ini tergantung pada generasi muda. Karena itu, setiap orangtua punya kewajiban menyelamatkan anak-anaknya. “Ayah-ibu mutlak bekerjasama. Mendidik anak harus dua-duanya, jangan ayahnya saja, atau ibunya saja,” jelasnya.

Anak bagi Elly mempunyai arti yang sangat besar. “Investasi kepada anak bagi kami sangat penting dibanding lainnya,” kata istri Risman Musa, lelaki yang menikahinya tahun 1978. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak perempuan: Rossalina Awaina (25) yang kini sudah menikah, Yuhyina Maisura (22), dan Silmi Kamila (15).

Dalam pendidikan anak, Elly mengaku mendapat support dari sang suami. Antara ia dan suaminya memiliki visi yang sama bagaimana mendidik anak-anak. “Alhamdulillah, anak-anak saya tidak ada yang bermasalah. Bahkan ada yang mengikuti jejak saya, sebagai psikolog,” terang Elly.

Elly bersama suami mempunyai cara tersendiri agar anak-anaknya tegar melawan arus pergaulan yang permisif, yaitu selalu menyediakan waktu untuk berbicara khusus soal seks, kemudian mengaitkannya dengan agama. Sebagai psikolog, Elly tahu benar pentingnya budaya keluarga dalam pendidikan anak. Di rumahnya, pola pendidikan semua dikembalikan kepada Al-Qur`an dan Hadist.

Elly mengaku, kondisi yang ia alami ketika remaja dulu dengan remaja sekarang jauh berbeda. Anak sekarang baru berumur 11 tahun sudah menstruasi, karena gizi yang lebih baik dan pengaruh tayangan-tayangan porno. “Media berbau pornografi luar biasa peredarannya. Kita bisa dengan mudah menemukan VCD, majalah dan tabloid porno di tempat-tempat terbuka yang bisa diakses siapapun, termasuk anak-anak dengan harga yang murah,” tegasnya.

Media apa yang paling berpengaruh atas penyebaran pornografi, khususnya pada anak-anak?

Televisi dengan tayangan yang beragam tanpa melihat jam tayang. Sekarang ini sinetron menduduki peringkat teratas penyebar pornografi. Tetapi untuk kalangan menengah ke atas, pengaruh televisi masuk urutan nomor tiga setelah internet dan telepon seluler (HP).

Apa yang mesti dilakukan untuk mencegah penyebaran pornografi di televisi ataupun internet?

Saya sudah beberapa kali memprotes stasiun televisi, tapi hanya mendapat jawaban yang tidak memuaskan. Untuk persoalan yang satu ini, kita harus bertarung dengan industri kapitalis yang ada di belakang industri pornografi serta ideologi tertentu.

Saya juga pernah ngomong ke Menteri Agama, tentang bahaya tayangan televisi dan beliau membenarkan. Saya juga datang ke Komisi 8 DPR untuk membahas masalah ini. Saya membawa data-data yang lengkap tentang tayangan-tayangan yang buruk bagi anak-anak.

Mengenai pemblokiran terhadap situs pornografi, secara teknis sangat bisa dilakukan jika pemerintah mempunyai itikad baik untuk melindungi masyarakatnya. Karena itu saya tidak setuju dengan Menteri Infokom yang mengkampanyekan internet ke anak-anak sekolah tanpa sebuah filter yang kuat. Semestinya membuat dulu perangkat filternya, baru kemudian mensosialisasikan internet. Saya kira itu bisa dilakukan sebagaimana negara-negara tetangga kita. Kalau kita tidak bisa membuat filter, lebih baik dihentikan kampanye internet tersebut.

Anda nampaknya prihatin terhadap isi tayangan TV yang terlalu berorientasi bisnis?

Iya. Makanya kami pernah melakukan aksi bersama kawan-kawan yang peduli terhadap anak-anak dengan melakukan kampanye “Sehari tanpa TV”. Diharapkan dengan adanya aksi ini keluarga mendapat kesempatan berharga untuk melakukan aktivitas bersama tanpa diganggu televisi. Dengan mematikan TV, maka setiap anggota keluarga akan memiliki lebih banyak waktu untuk melakukan kegiatan produktif, dan menyadari bahwa hidup bisa lebih bernilai tanpa TV.

Tujuan aksi tersebut untuk apa?

Mendesak industri penyiaran agar benar-benar memperhatikan kepentingan masyarakat, terutama perlindungan terhadap anak dan remaja. Kemudian menumbuhkan sikap kritis masyarakat terhadap siaran televisi.

Tapi kenyataannya siaran itu terus berlangsung. Pemerintah maupun institusi lain, terbukti tidak mampu membuat peraturan yang bisa memaksa industri televisi untuk lebih sopan menyiarkan acaranya….

Ini tidak lepas dari kepentingan sesaat. Kalangan industri televisi punya argumentasi sendiri mengapa mereka menyiarkan acara-acara yang tidak memperhatikan kepentingan anak dan remaja. Intinya, kepentingan bisnis telah mengalahkan dan menempatkan anak dan remaja kita sekadar sebagai pasar yang harus dimanfaatkan sebesar-besarnya. Dan ketahuilah, meski stasiun TV sudah mulai memperbaiki isi siaran mereka, namun hal itu tetap tidak bisa menghilangkan kesalahan mereka di masa lalu dalam memberi “makanan” yang merusak jiwa puluhan juta anak Indonesia.

Ini artinya gerakan hari tanpa TV perlu dilanjutkan?

Iya. Itu semua kembali pada masyarakat sendiri. Sebab tidak ada pilihan lain kecuali masyarakat sendiri yang harus menentukan sikap menghadapi situasi ini. Anggota masyarakat yang bersatu dan memiliki sikap yang sama untuk menolak perilaku industri televisi, akan menjadi kekuatan yang besar apabila jumlahnya makin bertambah. Penolakan oleh masyarakat yang merupakan pasar bagi industri televisi, pada saatnya akan menjadi kekuatan yang besar. Kami merencanakan mengadakan aksi “Enam Hari Tanpa TV” dalam waktu dekat.

Seberapa parah pengaruh negatif TV pada anak-anak?

` Sangat parah. Sekitar 60 juta anak Indonesia menonton TV selama berjam-jam hampir sepanjang hari. Mulai dari acara gosip selebritis; berita kriminal berdarah-darah; sinetron remaja yang penuh kekerasan, seks, intrik, mistis, dan amoral. Termasuk juga acara anak yang sebagian besar berisi adegan yang tidak aman dan tidak pantas ditonton anak.

Bayangkan, kalau anak-anak kita adalah satu dari mereka yang tiap hari harus menelan hal-hal dari TV yang jelas-jelas tidak untuk mereka tapi untuk orang dewasa. Anak-anak akan sangat berpotensi untuk kehilangan keceriaan dan kepolosan mereka karena masuknya persoalan orang dewasa dalam keseharian mereka. Akibatnya, sering terjadi gangguan psikologi dan ketidakseimbangan emosi dalam bentuk kesulitan konsentrasi, perilaku kekerasan, pertanyaan-pertanyaan yang “di luar dugaan” dan sebagainya.

Hanya sedikit anak yang beruntung bisa memiliki berbagai kegiatan, fasilitas, dan orangtua yang baik sehingga bisa mengalihkan waktu anak untuk hal-hal yang lebih penting daripada sekadar menonton TV.

Tulisan 3

Maju Terus Melawan Pornografi

Sebagai sebuah lembaga yang peduli dengan dunia anak, Yayasan Kita dan Buah Hati (YKBH) sangat resah terhadap pornografi yang melanda anak-anak Indonesia. Hasil survei yayasan pimpinan Elly Risman ini terhadap 1.705 responden di Jabotabek pada 2005 menemukan hasil yang mengerikan. Lebih dari 80 persen anak usia 9-12 tahun telah mengakses pornografi. Usia murid kelas 4-6 itu mayoritas (25 persen) mendapatkan materi pornografi melalui telepon seluler, situs porno di internet (20 persen), dan majalah serta film/VCD/DVD (masing-masing 12 persen).

“BBC dan CNN pada 2001 melaporkan, Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, di mana anak-anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual,” terang Elly yang lulus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia tahun 1978. Materi tersebut menurut Elly kemudian dijual, diekspor ke suatu jaringan situs pornografi anak di Texas. “Sebagai Muslim kita seharusnya malu dengan hal ini,” sesal Elly.

Namun ia mengaku tidak bisa berbuat banyak melihat kenyataan tersebut. Ia dan kawan-kawannya hanya bisa melakukan himbauan dan pengertian kepada berbagai pihak bahwa kondisi anak-anak Indonesia sudah diambang kehancuran. “Tidak banyak orang yang peduli dengan apa yang kami lakukan di sini,” terangnya. Karena itu ia mengaku seringkali mendapat kendala di lapangan dalam menjalankan porgram-program yayasannya.

Kendala itu bisa dari pihak pengambil keputusan yang sudah tidak peduli dengan apa yang ia lakukan maupun karena kendala pendanaan. Selama ini, kegiatan yang dilakukan dananya didapat dari urunan dan sumbangan beberapa kawan. “Saya berharap ada orang yang mau mendanai kegiatan kami,” harap Elly. Sedangkan dana dari luar negeri seperti PBB, ia tidak mau menerima karena dianggap syubhat.

Meski dana masih menjadi kendala, namun Elly tetap optimis dan akan bergerak terus demi menyelamatkan anak-anak Indonesia dari pornografi.

Yang membuat Elly tidak habis pikir, kenapa aturan pornografi di Indonesia yang dikenal negeri Muslim lebih longgar dari pada Amerika, Inggris, Singapura, atau Korsel. Karenanya ia menuntut supaya segera diundangkannya RUU Anti-Pornografi dan Pornoaksi (RUU APP) yang lebih memberikan perlindungan pada anak.

Anda begitu gigih memperjuangkan aksi antipornografi untuk anak. Begitu pentingkah itu?

Kita harus berjuang menyelamatkan anak Indonesia dari kekerasan pornografi. Itu tujuan utama kita. Contohnya, di negara-negara maju, Amerika, Inggris, atau di Eropa, mereka mengizinkan pornografi untuk orang dewasa. Tapi, di bawah 18 tahun tidak diizinkan. Itu bisa mereka lakukan melalui berbagai cara. Kalau pemerintah sungguh-sungguh sebenarnya bisa. Tapi saya melihat itikad pemerintah dalam hal ini kurang kuat.

Pernah Neno Warisman diundang salah satu Departemen Pemerintah untuk mengisi soal pornografi dan kekerasan pada anak. Neno menyampaikan pada panitia bahwa orang yang paling pas mengisi acara tersebut saya. Panitia setuju. Namun dua hari sebelum acara dilakukan, tahu-tahu dibatalkan. Alasannya, karena saya bukan public figur. Biarpun begitu saya tetap akan berjuang melawan pornografi.

Anda optimis masalah ini bisa teratasi?

Untuk hilang secara total tidak. Pornografi akan tetap ada seperti halnya kebaikan dan keburukan selama kehidupan ini. Namun semua agama pasti menghendaki kita untuk berbuat kebaikan. Yang bisa kita lakukan bagaimana meminimalkan penyebaran pornografi terutama pada anak-anak melalui undang-undang, karena yang ada saat ini belum memberikan efek jera.

Selain itu, dari segi penegakan hukum, aparat kepolisian perlu melakukan tindakan yang lebih progresif untuk meningkatkan profesionalisme kinerja aparat dalam memberantas pornografi.

Bagaimana upaya untuk melindungi anak-anak dari pengaruh pornografi?

Menurut saya perlu ada regulasi yang tegas, karenanya kita mendesak dan sedang terus memperjuangkan agar DPR segera mengundangkan RUU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Bagi kami RUU itu merupakan tujuan jangka menengah. Sedang tujuan utama kami yaitu menyelamatkan anak-anak Indonesia dari pornografi.

Kami dari lembaga-lembaga peduli anak terus melakukan advokasi di lapangan serta melakukan penyadaran melalui seminar, betapa pentingnya mengawasi anak-anak, yang diterapkan berupa pendidikan untuk melakukan penjagaan mulai dari rumah sendiri.

Apakah cara itu cukup efektif?

Kita memang belum pernah melakukan penelitian secara akurat, seberapa besar persentase perubahan itu, karena aliansi ini kan masih baru. Untuk kongkritnya perlu dirumuskan lagi, tetapi untuk penyadaran melalui ibu-ibu sudah kami lakukan puluhan tahun yang lalu. Saya mengakui, ini tantangan yang sangat berat, seperti membangun istana pasir, sudah kita bangun kemudian dengan mudah terhapus gelombang berupa industri pornografi. Akibatnya moral anak kita terkikis lagi. Akan begitu terus, tetapi kita harus tetap peduli terhadap masalah ini.

Bagaimana pendapat Anda tentang kelompok yang berupaya membelokan RUU APP dan menganggap keberadaannya justru akan mengancam kebudayaan Indonesia?

Makanya saya bersama kawan-kawan berusaha mendatangi mereka untuk berdialog. Saya yakin, pasti ada jalan keluar. Dan hal ini sudah dicoba beberapa waktu lalu melalui pertemuan di Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Alhamdulillah, sudah mulai terbuka, mudah-mudahan mereka sadar, bahkan tanpa malu-malu kami pun sudah mendatangi tokoh-tokoh yang berpengaruh di negeri ini untuk meminta dukungan.

Mengenai pembelokan yang dilakukan sekelompok masyarakat, saya mengajak kelompok yang berfikiran seperti itu untuk sama-sama membaca dulu RUU-nya, menyelidiki mana substansi yang mengancam kebudayaan seperti yang dimaksudkan. Saya mengakui, memang benar ada agenda di balik berbagai pendapat ini, namun kita harus bisa meyakinkan bahwa anggapan itu tidak benar.

Ketika saya mengisi seminar di Bali dan Menado, awalnya masyarakat sinis dengan saya. Namun setelah mendengar penjelasan saya, terutama tentang betapa besarnya ancaman pornografi terhadap anak-anak kita, mereka malah simpati pada saya.

Ternyata kalau mereka diajak berbicara tentang anak, pikirannya sama. Mereka juga khawatir dan takut anak-anaknya rusak. *

Although painful, discussing the separation and divorce with your children will strengthen your
relationship with them. It will also maintain their trust in you. Sharing general information is appropriate
when talking with younger children. Adolescents will want more details. Be sure to let them know what
the future holds for them. They will want to know what their relationship will be with both parents.
The most important factor for children’s well being seems to be limiting the amount and intensity of
conflict between parents. Minimizing the conflict and hostility between parents following the divorce
can contribute to the child’s growth. Agreement between the parents on discipline and child rearing, as
well as love and approval from both parents, contributes to the child’s sense of well being and selfworth.
Although joint living arrangements have many benefits, recent research suggests there may be times
when there are drawbacks to this arrangement. Preschool children may think they are being punished
when they are moved from one household to another. They feel that they are sent away because they are
naughty.
Older children may dislike this type of arrangement if it intrudes on their daily lives. Some parents in
joint arrangements fight with each other because they are in constant contact. Their children suffer as a
result. Successful joint parenting requires regular communication and cooperation that may be difficult
for parents who don’t get along. If there is a very high level of conflict or violence between the parents, then a
joint living arrangement may not be in the best interest of children.
Day-to-day involvement of both parents in their children’s lives is the clearest way of letting children
know they are loved and valued. A parent who lives in a different town or state can still keep in close
touch with his or her children. Letters, e-mails, phone calls, tape-recorded messages and sharing
paperwork and artwork done in school are ways parents and children can keep in contact.
Children of all ages fantasize that their parents will get together again.
This may be particularly true when parents are successfully co-parenting.
Be clear with the children about the finality of the divorce, and discourage
their attempts to get you back together.
If possible, limit the number of disruptions children must handle during
separation and divorce. For example, try to keep the child in the same
school, childcare facility, home or neighborhood.
Talk to children about your concerns related to the divorce. This will help them understand what is
happening.
Develop positive ways to handle your stress. For example, exercise, eat nutritious food, spend time with
friends or take up a hobby. If you feel you are under too much stress and may hurt your children, ask for
help immediately. Call a crisis hotline, or your former spouse, a friend or relative and ask for help.
Turn to relatives and friends for support. Don’t rely on your children to meet your needs for
companionship and affection. Take care of yourself so you can take care of your children.
Be sure to let your children see the positive ways you use to cope with stress. This helps them
understand that they must also find positive methods to handle their feelings. Suggest activities they
might do to feel better. Playing with friends, joining a club, taking up a hobby, or reading can be helpful
in reducing stress. Perhaps there are some activities, such as going for walks, that you and your child can
do together.
Practice a kind, but firm, style of discipline. Accept children’s feelings of anger. Help them find
acceptable ways of expressing this anger without hurting themselves, other people, animals, or property.
Provide the nurturing and love that your children need, while setting firm limits on aggressiveness and
other inappropriate behavior.
Adult friends and family members can provide emotional warmth, reassurance and comfort to your
children. They can teach them new skills and activities and act as role models. They can also let children
know that they are important and valued.
Counseling with social workers, psychologists, marriage and family therapists, or psychiatrists can help
some children. Many schools and religious organizations also provide support group sessions. In these
situations children can explore their feelings and learn how other children from divorced families cope.
It often takes two or more years for children to adjust to their parents’ divorce. Through love,
understanding and keeping in close contact with your children, you will help them grow into welladjusted
and productive adults.
Sources:
Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Beware! Pornography Can Threaten Your Child’s Brain

Pornography was very dangerous for children more than we expected so far. Not only the child’s mental changes, but also for the physical in this case the brain. So watch your kids right now so as not to experience terrible disaster in your family. Moreover, the spread of prnographic video case Ariel, Luna Maya and Cut Tari, the stronger the magnetic power to attract our children.

Various cases that arise related to pornographic content really is very worrying. Handling is done, both by the government, schools, and among the elderly, still like a fire extinguisher. Handling the problem of pornography is still struggling in the lower reaches, such as the raid on the school phone.
Concluded a press conference of the National Commission for Protection of Children and Yayasan Kita dan Buah Hati in Jakarta, Tuesday, June 15th 2010 outbreak response materials sordid scene that allegedly made famous artist lately.
According to Elly Risman from Yayasan Kita dan Buah Hati, pornography can damage children’s brains, even worse when compared with the damage caused by drugs.
Pornography is cocaine through the eyes. Nature is worse than drugs. If the drug is only three-part attack on the human brain, pornography damage five parts of the brain, said Elly Risman. She believes that pornography damage the child brain that has not had the development of the prefrontal cortex (PFC).
On the other hand, punishing for the children who found to obtain pornographic material, will not solve the problem. Efforts should be done is to get the dialogue of children and provide understanding about the problem. Secretary General of the National Commission for Child Protection Arist Merdeka Sirait deplores rampant circulation of p0rn videos that endanger children, with the position of children in pornography case continues to be a victim.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Mari kita lindungi buah Hati kita

Rizeni
Thu, 18 May 2006 21:53:05 -0700

Kiriman dari teman…
mungkin buat mengingatkan kita aja..
bukan untuk diperdebatkan.
Ignore email ini, kalau udah pernah dapat.
Regards
(YENTI – mama VARI)
Sementara itu anak-anak kita/Enam puluh juta banyaknya Dihantam kekerasan pornografi/Dua ratus ribu website syahwat Novel dan komik cabul/Dua puluh juta keping VCD biru/Akibatnya anak SMP yang menontonnya/Memperkosa anak SD/Pergi ke PSK/Dan mereka ini tidak dilindungi/Generasi ini tidak dilindungi
Itulah salah sebait puisi Taufiq Ismail yang berjudul Gerakan Syahwat Merdeka yang dibacakannya dalam acara silaturahim Tim Pengawal RUU APP di kediaman Ida Hasyim Ning, Cikini Raya, Jakarta, Rabu (17/5) malam. Sebait puisi di atas menggambarkan gelegak industri pornografi dan dampaknya bagi generasi muda harapan bangsa.
Untaian kalimat indah nan galau itu, diperkuat paparan hasil riset pornografi dan pornoaksi oleh Aliansi Selamatkan Anak (ASA) Indonesia, Inke Maris. Betapa kini, kata dia, anak-anak mendapat berkah kemajuan teknologi. Tapi teknologi, selain membawa kemajuan, juga membawa ‘sampah pornografi’ yang memangsa anak-anak.
Survei-survei, kata mantan presenter itu, telah membuktikannya. Survei BKKBN, misalnya. Pada tahun 2002, lembaga pemerintah itu melakukan survei terhadap 2.880 remaja usia 15-24 tahun di enam kota di Jawa Barat. Hasilnya, sebanyak 39,65 persen pernah berhubungan seks sebelum nikah. Hasil survei Center for Human Resources Studies and Devlopment FISIP Unair, Surabaya, terhadap 300 responden remaja usia 15-19 tahun juga tak kalah mengejutkan: 56,5 persen remaja pria pernah melihat film porno dan 18,4 persen remaja putri pernah membaca buku porno.
Yang menyedihkan, dari data survei Yayasan Kita dan Buah Hati terhadap 1.705 responden di Jadebotabek pada 2005, lebih dari 80 persen anak usia 9-12 tahun telah mengakses materi pornografi. Usia murid kelas 4-6 itu mayoritas (25 persen), mendapatkan materi pornografi melalui handphone, situs pornografi di internet (20 persen), dan majalah serta film/VCD/DVD (masing-masing 12 persen).
Engkau menampaknya, saya menampaknya/Beberapa ratus orang, beberapa ribu orang/Dengan gegap gempita/Mendorong gerbong/Masyarakat permissif Komunitas addiktif/Menolak untuk diatur….
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Agama, Solusi Bahaya Era Digital Bagi Anak

Thursday, 11 December 2008 22:47 Nasional
Barang orangtua menyediakan anak-anak mereka HP, komik, internet dan game. Padahal, media tersebut menyediakan unsur pornografi

Hidayatullah.com–Di era digital, teori global village yang dikatakan Friedman dalam buku The World is Flat terbukti. Global village telah menyebabkan dunia tidak memiliki tapal batas sedikit pun. Berita yang terjadi di kutub selatan akan terekspos hanya dalam hitungan menit. Tidak hanya informasi, segala jenis budaya, nilai, idiologi, dan pornografi akan dikonsumsi dengan menggunakan internet, TV, HP, dan majalah. Media itulah, yang kini sedang menggerus habis masa depan anak.

Pernyataan tersebut disampaikan psikolog Elly Risman dalam seminar “Smart Parenting: Menyiapkan Anak Tangguh Dalam Era Digital” di Restoran Nur Pasific Surabaya pada (11/12) kemarin.

“Masa depan anak sekarang dalam bayang-bayang teror digital. Jika anak tidak hati-hati menggunakannya, akan berakibat fatal,” kata Elly Risman. Mengenai hal itu, Elly Risman menyayangkan orangtua yang kurang berhati-hati dalam memberikan kebebasan kepada anak terhadap tekhnologi.

“Anak diberi HP, disediakan internet, dibelikan game dan komik tanpa seleksi dan pengarahan. Padahal, media tersebut menyediakan unsur-unsur pornografi,” katanya.

Oleh karena itu, menurut Risman membiarkan anak hidup sendiri dalam era digital tanpa bimbingan sama halnya melepas anak di kandang macam. “Jika hal ini diberiarkan, maka akan merusak psikif, fisik dan moral anak,” ujarnya.

Sedikitnya menurut Elly Risman ada empat jenis media yang harus diwaspadai penggunaanya oleh anak.

Pertama komik. Banyak komik anak yang mengandung unsur pornografi. Salah satunya Naruto dan Nakayoshi. Dalam pantauan Risman, jenis pornografi yang disajikan oleh komik tidak hanya sekedar sex, namun juga homeksual dan lesbian. Tidak sekedar itu, menurut Risman dalam komik, juga kerap diberikan bagaiamana cara nge-seks di kamar mandi, mobil dan tempat lainnya.

“Dan hal itu, kebanyakan tidak disadari oleh kebanyakan orang tua,”tuturnya.

Kedua game. Menurutnya, banyak orangtua yang menyediakan game untuk anaknya. Padahal dengan bermain game, dengan durasi 15 jam perminggu, sebagaimana yang dilansir Harris Interactive researceh on line, anak akan kencanduan pathologis. Selain itu, menyebabkan terjadinya Repetitive Strain Injury (RSI), mengikis lutein pada retina mata dan menyebabkan kejang-kejang (Nintendo epilepsy).

Ketiga film. Sangat sedikit program TV dan film yang aman ditonton anak. Sperti film Buruan Cium Gue (BCG), Married By Accident (BMA), Making Love (ML), DO, Kawin Kontrak dan sejumlah film yang disutradarai Rampunjabi selalu mengekspos seksualitas. Hal ini, menurut Risman telah mengakibatkan anak remaja melakukan sex di luar nikah. Padahal, film tersebut ditonton ratusan juta anak muda Indonesia.

Keempat internet dan HP. Internet merupakan media paling lengkap yang mudah dikases oleh siapa saja dan kapan saja, termasuk pornografi. Internet adalah perpustakaan pornografi. Menurut Risman, bidikan internet adalah pasar anak. Anak menjadi future market, yang akan menjadi pecandu pornografi seumur hidup. Akibat candu pornografi, anak akan kerusakan permanen dalam otak atau visual crack cocain / erototoksin yang belum ditemukan obatnya di Indonesia.

Untuk mencegah terjadinya dampak negatif dunia digital bagi otak anak, Risman memberikan beberapa solusi. Yaitu, jelaskan dampak negatif era digital terhadap anak dengan cara tanamkan pondasi agama yang kuat terhadap anak, berikan alternatif permainan yang lebih menantang, luangkan waktu untuk melakukan aktivitas dengan anak dan buatlah hidup mereka lebih bermakna. [anshor/www.hidayatullah.com]

Posted in Uncategorized | Leave a comment

‘Terorisme’ Moral Anak Bernama Pornografi’

Senin, 10 Agustus 2009, 09:35 WIB
Pelarangan atau pun pembatasan pada materi pornografi belum maksimal dilaksanakan.

Dampak pornografi terhadap perkembangan jiwa anak dan remaja ternyata lebih dahsyat dari yang dibayangkan. Tanyakan itu kepada Direktur Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, Hj Elly Risman Musa SPsi, maka akan memperoleh gambaran yang memprihatinkan.

”Kita semua patut prihatin dengan yang terjadi pada anak-anak kita dewasa ini,” kata Elly, kepada Republika, beberapa waktu lalu.

Ibu tiga putri itu punya sederet bukti. Dari berbagai forum dan kegiatan yang diikuti, baik di seminar, konsultasi psikologi, maupun di radio, dia menemukan hal-hal yang tidak terduga menyangkut respons anak-anak, remaja, orangtua dan guru terhadap bahaya pornografi.

Saat memandu acara konsultasi di radio, Elly menemukan para orangtua dan guru kian gelisah melihat perilaku anak-anaknya. “Bagaimana saya harus bersikap terhadap anak didik saya? Mereka suka duduk berduaan di kolong meja atau di pojokan sekolah?”

Elly juga pernah terkejut bukan main pada waktu berkunjung ke sebuah SD di pinggiran Jakarta. Ketika itu, bersama yayasannya, dia sedang menggelar acara sosialisasi.

Tiba-tiba, seorang siswa kelas empat dengan polosnya menanyakan sesuatu yang belum sepantasnya diajukan anak seusianya. Sontak, Elly tak mampu berkata apa-apa. “Saya sangat trenyuh memikirkan hal itu,” kenangnya.

Pertanyaannya, mengapa bisa terjadi seperti ini? Menurut pengasuh kolom konsultasi keluarga di sejumlah media massa tersebut, hal itu tak lain akibat tayangan dan paparan berbau pornografi yang seolah tidak terbendung dan menyerang anak-anak serta remaja.

Elly sendiri mengistilahkan bahaya itu sebagai ‘terorisme’ atau ‘bom’ terhadap jiwa anak. Mulai dari film, games (permainan), situs internet, SMS pornografi bahkan komik, semuanya adalah ancaman yang harus diwaspadai.

Padahal dari hasil riset dr Donald Hilton, seorang ahli bedah otak dan dokter terkemuka dari Amerika Serikat yang datang Februari lalu atas undangan Yayasan Kita dan Buah Hati, dikatakan bila kokain merusak otak di tiga bagian, maka pornografi atau kecanduan seks akan merusak otak di lima bagian.

Itulah dampak terorisme jiwa. Celakanya, dia menilai upaya pelarangan atau membatasi materi pornografi, belum maksimal dilakukan.

“Meski sudah diteriakkan ke mana-mana tetap saja tidak ada teguran. Sepertinya mereka (pemilik modal, red) punya dana besar sekali yang sulit dikalahkan,” kata dia, sedih.

Lantas, bagaimana peran orangtua dalam mengatasi dampak buruk pornografi? Elly justru mengaku tidak habis pikir. Ternyata sebagian orangtua sedang dilanda budaya cuek. “Jadi, seolah-olah nggak terjadi apa-apa dengan anaknya,” ujarnya.

Salah satu contoh yakni membebaskan anak memakai telepon genggam, alasannya agar memudahkan komunikasi. Sebagian bahkan membekali anaknya yang masih duduk di SD atau SMP dengan Blackberry.

Maka dengan fasilitas internet yang ada, mereka pun dapat berselancar di dunia maya secara leluasa. Atau bermain game yang kontennya kadang sangat tidak mendidik.

“Prancis saja menyetop pemakaian HP untuk anak SD. Kita boro-boro,” keluh dia.

Psikolog dari Universitas Indonesia (UI) ini memang dikenal luas pada kepeduliaannya terhadap persoalan tersebut. Bersama yayasannya maupun pihak-pihak yang memiliki perhatian serupa, Elly terus berupaya membangun kepedulian demi menyelamatkan generasi bangsa dari kerusakan moral dan akhlak.

Dikatakan Elly, kenyataan yang ada serta pertanyaan para orangtua dan guru tadi, membuktikan ketakutan masa lalunya. Lima tahun lalu, dia pernah khawatir bahwa siswa TK dapat menjadi korban kekerasan seksual. ”Ternyata, kekhawatiran saya sekarang jadi nyata,” tandasnya.

Untuk itu, lembaga Yayasan Ibu dan Buah Hati pernah menerbitkan sebuah buku sebagai panduan dan bimbingan bagi orangtua bagaimana menghindarkan anak dan balita dari tindak kekerasan itu.

Tapi, gempuran pornografi tak pernah surut. Dampaknya luar biasa. Terorisme jiwa lambat laun menciutkan otak anak dan membuat adiksi pada pornografi. “Perlu upaya segencar menanam pohon atau membasmi terorisme, terhadap bahaya yang dihadapi anak-anak Indonesia,” tegas Elly lagi.  dam/taq

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Yayasan Kita dan Buah Hati: 67% Anak SD Akses Pornografi

Jun 13

Yayasan Kita dan Buah Hati melansir data sebanyak 67 persen dari 2.818 siswa Sekolah Dasar (SD) kelas 4-6 mengaku pernah mengakses informasi pornografi. Sebagian besar anak-anak belia itu melihat pornografi melalui media komik.

Data mengejutkan tersebut terungkap dari hasil survei Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di sejumlah SD di Indonesia sejak Januari 2008 hingga Februari 2010.

Sekarang ini pemerintah harus perangi kejahatan kerusakan anak, harus ada program terapi nasional untuk anak-anak yang selama ini tidak ada di Indonesia,” kata Direktur Yayasan Kita dan Buah Hati Elli Risman di Kantor Komnas Perlindungan Anak, Jalan TB Simatupang, Jakarta, Sabtu, 12 Juni 2010.

Hasil survei menunjukan, anak-anak belia tersebut selama ini mengakses pornografi melalui komik (24 persen), situs internet 22 persen, permainan 17 persen, film/TV 12 persen, telepon genggam 6 persen, majalah 6 persen, dan koran 5 persen.

Para pelajar SD itu umumnya melihat pornografi karena alasan iseng sebesar 21 persen, penasaran 18 persen, terbawa teman 9 persen, serta takut dibilang kurang pergaulan 3 persen.

Dalam benak anak-anak, menurut hasil survei, pornografi diterjemahkan sebagai gambar orang telanjang sebesar 31 persen, gambar jorok 29 persen, memperlihatkan aurat 12 persen, serta gambar yang tidak boleh dilihat

Sementara itu Ketua Komnas PA Aris Merdeka Sirait menilai jumlah anak-anak pengakses informasi pornografi dipastikan bakal bertambah setelah munculnya video cabul pemeran yang diduga mirip artis.

Survei baru sekarang sedang dikerjakan, tapi kami yakin akan bertambah. Ketika ini muncul dan semua anak menjelajah, jumlah akan bertambah dan mereka sekarang menganggap itu adalah hal biasa,” katanya. (umi)

Sumber: Vivanews

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dahsyatnya Kerusakan Otak Anak akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia

April 13, 2009 by antz

Dipublikasikan oleh Surya Online:

Banyak sekali orang tua sekarang terperangkap dalam ketidaktahuan dan tidak tahu harus berbuat apa menghadapi maraknya peredaran materi pornografi baik dalam bentuk keping cakram, video games, dan komik. Padahal, anak-anak makin rentan terpapar materi pornografi yang pada akhirnya bisa menimbulkan kecanduan seks dan merusak otak. Sex and Children Sex and Children Demikian disampaikan Ketua Pelaksana Yayasan Kita dan Buah Hati, Elly Risman, dalam seminar bertema Memahami Dahsyatnya Kerusakan Otak Anak akibat Kecanduan Pornografi dan Narkoba dari Tinjauan Kesehatan Intelegensia, Senin (2/3), di auditorium Departemen Kesehatan, Jakarta. “Banyak orang tua tidak tahu harus berbuat apa ketika anaknya mogok sekolah, mulai kelas lima sekolah dasar sampai sekolah menengah atas karena main games, tak henti-hentinya,” kata Elly Risman menegaskan. Hampir tiap hari ada saja berita tentang anak dan remaja berbuat mesum dan foto bugil yang ditayangkan di televisi maupun dinikmati rekan sebaya mereka.

Dalam Pertemuan Konselor Remaja Yayasan Kita dan Buah Hati dengan 1.625 siswa kelas 4-6 sekolah dasar wilayah Jakarta Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi, tahun 2008 terungkap, 66 persen dari mereka telah menyaksikan materi pornografi lewat berbagai media. Sebanyak 24 persen di antaranya lewat komik, 18 persen melalui games, 16 persen lewat situs porno, 14 persen melalui film, dan sisanya melalui VCD dan DVD, telepon seluler, majalah dan koran. Mereka umumnya menyaksikan materi pornografi itu karena iseng (27 persen), terbawa teman (10 persen), takut dibilang kuper (4 persen). Ternyata anak-anak itu melihat materi pornografi di rumah atau kamar pribadi (36 persen), rumah teman (12 persen), warung internet (18 persen), rental (3 persen). “Kalau kita jumlahkan yang melihat di kamar pribadi dan di rumah teman, berarti satu dari dua anak melihatnya di rumah sendiri,” ujarnya.

Sementara hasil survei yang dilakukan Komisi Nasional Perlindungan Anak terhadap 4.500 remaja di 12 kota besar di Indonesia tahun 2007 lalu menunjukkan, sebanyak 97 persen dari responden pernah menonton film porno, sebanyak 93,7 persen pernah ciuman, petting, dan oral seks, serta 62,7 persen remaja yang duduk di bangku sekolah menengah pertama pernah berhubungan intim, dan 21,2 persen siswi sekolah menengah umum pernah menggugurkan kandungan. Kondisi ini terjadi karena mereka sudah terpapar pada pornografi sejak belia, kata Elly menegaskan. Dari pertemuan Yayasan Kita dan Buah Hati dengan puluhan ribu orang tua di 28 provinsi ketika seminar, pihaknya menemukan rata-rata hanya 10 persen dari para orang tua yang bisa menggunakan peralatan atau permainan canggih yang mereka belikan untuk anak-anak mereka. Apalagi belakangan ini banyak situs internet dengan nama yang tidak terkait dengan materi seks ternyata mengandung materi pornografi. Beberapa dari situs itu bahkan menggunakan nama tokoh kartun yang digemari anak-anak seperti Naruto, serta memakai istilah nama hewan seperti lalat atau nyamuk yang biasanya dibuka anak-anak itu ketika mengerjakan tugas sekolah. Mereka umumnya tidak tahu dampak negatif video terhadap kerusakan otak anak. “Kita berada dalam kultur abai pada anak sendiri. Di sisi lain, kita semua belum menganggap bencana pornografi itu sama pentingnya dengan masalah flu burung, HIV/AIDS, narkoba, dan penyakit-penyakit menular lainnya,” ujarnya menambahkan. Maka dari itu, ia mengajak agar para orang tua lebih terlibat dalam pengasuhan anak-anak mereka sejak belia baik ayah maupun ibu. Kurangnya peran ayah dalam pengasuhan anak pada usia dini, khususnya pada anak lelaki, mengakibatkan terputusnya jembatan komunikasi antara orang tua dan anak. Hal ini membuat banyak anak memilih mencari informasi dari luar rumah yang bisa jadi malah menjerumuskan mereka dalam dunia pornografi.

Pemerintah juga harus meningkatkan pengawasan terhadap peredaran materi pornografi. “Antara lain dengan membatasi atau memblokir situs-situs internet pornografi, menerapkan regulasi yang ketat terhadap video games terutama yang mengandung materi tidak edukatif atau berbau pornografi,” kata Elly menegaskan.

Posted in Uncategorized | Leave a comment